Gaya Koboi Sang Gubernur

“Cuaca hari ini baik, walau berawan. Penerbangan dengan saya akan aman. Saya telah terbang lebih 8.000 jam,” ujar Rass, pilot Cassa. Mendengar pernyataan pilot asal Amerika itu membuat para penumpang riang.

Namun sejenak kemudian penumpang cemas. ”Tapi kali ini kalau tidak nyaman itu karena pak gubernur yang menjadi pilot,” kata Rass. Gubernur yang dimaksud Rass adalah Irwandi Yusuf, Gubernur Aceh.

Penumpang hanya bisa nyengir, walau di langit awan gelap terlihat. Rass tidak bercanda, Irwandi memang menjadi pilot penerbangan dari Bandara Cut Ali, Aceh Selatan, menuju Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) Blang Bintang, Aceh Besar.

Di kursi penumpang pada penerbangan eksklusif itu duduk sejumlah pejabat, di antaranya Hanifah Affan (Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan), Munirwansyah (Kepala Bappeda), Adnan Beuransyah (Juru bicara Partai Aceh), Nurdin F Jos (Kabid Humas Pemerintah Aceh), dan tiga kuli berita. Saya sendiri, satu-satunya wartawan media cetak yang berkesempatan ikut rombongan ini.

Sejak berangkat pada tanggal 6-9 Desember, saya mendapat tugas tambahan. Tidak dari Harian Aceh, melainkan dari Irwandi. Ia memberi kamera Sony SLR miliknya untuk dokumentasi. Jadi, sebelum Irwandi tidur, saya terus menenteng tiga kamera. Lagak Irwandi persis bos media bila berpesan, ”kalau kena hujan dan jatuh yang dua itu boleh, tapi Sony jangan.”

“Kali ini kita akan terbang lebih rendah di antara perbukitan, dan penerbangan akan sedikit lebih lama dari biasanya,” kata sang pilot, Irwandi.

Sekitar jam 13,15 WIB, pesawat lepas landas dari Bandara Cut Ali, mengitari hamparan kebun kelapa sawit dan perbukitan. Pesawat terbang dengan nyaman, bahkan beberapa orang lelap selama penerbangan.

Rombongan ini baru saja melakukan kunjungan ke lokasi banjir selama tiga hari, di Trumon, Aceh Selatan, dan Aceh Singkil. Di dua kabupaten tersebut gubernur menyubang 12 ekor sapi untuk meugang para korban banjir plus uang untuk bumbu masak. Gubernur juga menyumbangkan sembako dan mendengar semua keluh kesah pengungsi.

Kepada bupati yang daerahnya dilanda banjir, Irwandi juga memberikan uang tunai Rp100 juta. Namun dia tidak menjelaskan untuk apa uang tersebut digunakan.

Gubernur salat Idul Adha bersama pengungsi di Mesjid Al-Ihsan Tromon dan pada malamnya dia menginap di rumah seorang warga Tromon. Dalam perjalanan darat, gubernur juga menyetir sendiri mobilnya.

Saat menuju Singkil, Jeep Robicon yang baru dikredit Irwandi selama tiga tahun sempat terperosok di Gunung Tengku Mangat. Namun, Irwandi berhasil mengendalikan mobilnya yang hampir masuk jurang yang terjal, walau mobil telah keluar badan jalan. Kecuali Irwandi yang masih nyengir, semua penumpangnya pucat basi, yakni anggota DPRA Samsulbahri, Kepala Bappeda Munirwansyah dan Jubir PA Adnan Beuransyah.

Jalan yang licin diyakini menjadi satu penyebab Irwandi kehilangan kendali. Lepas dari lokasi kejadian, Irwandi kembali menyetir mobil, menuju Kota Sulbussalam dan Aceh Singkil.

Sementara itu, sekitar 40 menit penerbangan dari Bandara Cut Ali, Co Pilot melalui pengeras suara. ”Oke saat ini kita berada di atas kota Nagan Raya. Pak Gubernur ingin minum kopi di kota ini dan pesawat akan mendarat sebentar di Bandara Cut Nyak Dhien,” kata Rass. Semua yang di dalam serasa tak percaya mendengar ucapan Rass. Sahkan salah satu dari mereka setengah berbisik mengatakan, ”kok bawa pesawat macam bawa becak saja, di mana ingin buang air berhenti.”

Tiba-tiba semua orang tersentak ketika pesawat oleng. Rupanya Irwandi menukikkan pesawat terlalu cepat untuk menyejajarkan pesawat dengan landasan pacu.

”Gubernur baru bilang ke saya ingin turun di sini ketika kita berada di atas Nagan,” kata Rass.

Pendaratan sukses, tapi tak ada sambutan atau antrian mobil yang menjemput orang nomor satu di Aceh sebagai mana lazimnya. Hanya ‘double cabin’ milik pengelola bandara yang parkir di situ. Kemudian Irwandi meminjam mobil tersebut, 12 penumpang nimbrung di mobil itu; lima di dalam dan yang lainnya di bak belakang.

Rombongan menuju Simpang IV Langkah. Di sana hanya ada satu warung yang buka dengan kursi dan meja acak-acakan. Irwandi memilih dudu di beranda depan dekat rak mie. Sebelumnya dia telah memesan Mie Tumis untuk semua rombongan. Karena sudah siang, seorang pejabat yang ikut rombongan berinisiatif mencari nasi untuk sang gubernur. ”Tidak boleh, hari ini saya makan mie. Semua yang ikut juga harus makan yang sama,” larang Irwandi.

Semula, hampir tak ada yang mengenal Irwandi, termasuk pemilik warung. Setelah dibisik bahwa itu gubernur, pemilik warung baru terlihat sibuk melayani rombongan. Semua minuman kaleng dihidangkan, Irwandi memilih pocariswet dan sprite.

Selang setengah jam nongkrong, Bupati Abdya dan Bupati Aceh Barat beserta wakilnya datang menyambangi. Orang-orang yang tadinya cuek mulai bertanya-tanya ada apa gerangan. Setelah tahu yang dari tadi nongkrong di warung itu adalah gubernur, mereka mulai mendekat dan menyalami.

Setelah satu jam, gubernur pamit dan melanjutkan perjalanan. Kali ini semua penumpang pesawat benar-benar jantungan dibikinnya. Pesawat sering menukik tiba-tiba, bahkan sering terbang di sisi gunung saat melihat jalan buatan USAID. Tepat pukul 17.20 WIB, pesawat mendarat dengan sukses di Bandara Internasional SIM Blang Bintang. (10 December 2008)

0 komentar: