Golongan Putih Kutaradja

SEPEKAN JELANG PEMILU, undangan sampai ke tangannya. Namun Mahfud, sama sekali tak tertarik pada perhelatan lima tahunan itu. Ia memilih menjenguk keluarga di Pidie Jaya daripada ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) di Kelurahan Buerawe Banda Aceh.

Alasannya keengganannya, sederhana; janji para calon legislatif (caleg) tak bisa ‘dipegang.’ Lagi pula, mayoritas kandidat politisi-politisi lama. Bagi pria 28 tahun itu, anggota legislatif tak memikirkan kepentingan rakyat.

“Selama mereka duduk di kursi dewan, apa yang telah di perjuangkan untuk rakyat, selain kepentingan pribadi dan kroninya,” tegasnya Mahfud.

Alasan lain, para caleg dinilainya terlalu haus kekuasaan. Padahal, secara akademis dipandang tak mampu mengemban peran legislasi.“ Dari pada salah memilih, lebih baik menerima hasil pilihan orang,” ujar karyawan swasta ini.

Ketidakpercayaan pada calon anggota legislatif juga menjadi alasan Saini tak menggunakan hak pilihnya. Pria 37 tahun ini mengaku kesal dengan anggota dewan yang dipilihnya pada Pemilu 2004 lampau. Ia memilih calon yang dikenalnya sangat merakyat. Namun apa lacur, “Dia berubah setelah duduk di kursi dewan,” kata pedagang keliling ini. “Selama menjadi anggota dewan, dia tidak pernah menepati janjinya semasa kampanye dulu.”

Saini berlaku apatis pada pemilihan kali ini. Parahnya, Saini mengklaim mayoritas caleg sekarang ini tak akan mampu menepati janji-janji yang ditebar selama masa kampanye. Pun begitu, warga Peunayong ini memilih menyambangi lokasi pemungutan suara, hanya untuk mengantar sang istri mencontreng. “Tak enak sama Pak Lurah,” katanya, tersenyum.

Hal senada juga dilakukan Yanti 19 tahun, walau baru pemilu kali ini namanya terdaftar sebagai pemilih, namun dia memilih tidak datang ke TPS dan memilih bermalas-malasan di rumah pada saat yang lainnya menyalurkan aspirasi politiknya. “Malas datang ke TPS, pemilunya rumit, pake antri lagi,” kata mahasiswi fakultas keguruan ini.

Besarnya kertas suara, serta pengetahuan yang minim tentang latar belakang para calon legislatif, menjadi alasan Yanti memilih golput. Uniknya dia mengaku mengikuti sosialisasi cara memilih bagi pemula, yang diprakarsai KIP Aceh di kampus IAIN Arraniry jelang pemilu.
Mahfud, Saini dan Yanti, merupakan bagian dari warga yang memilih mengabaikan hak suaranya dalam pemilihan 9 April lalu atau lazim disebut golongan putih (golput). Di Banda Aceh, jumlah mereka yang berada di saf ini mencapai 51.586 orang atau hampir 40 persen, dari total calon pemilih 174.858 orang. Angka ini terbilang besar. Bandingkan dengan angka golput di tingkat provinsi yang hanya 23 persen.

Tingginya angka golput ini mengkhawatirkan. Sebab, sikap politik ini lahir dari sikap apatis yang diperlihatkan warga. Sosiolog Universitas Syiah Kuala Ahmad Humam Hamid menyebutkan, para pemilih dewasa ini sudah pintar dan tak lagi termakan janji-janji yang diumbar para caleg sebelumnya,

“Mereka kecewa, karena calon yang dia pilih sebelumnya tidak bisa membawa perubahan seperti yang dijanjikan,” ujar Humam.

Humam tak sepenuhnya melihat membengkaknya angka golput karena sikap apatis tadi. Ada juga, menurut Humam, yang mengabaikan hak pilihnya karena memang bisa dikatakan sebagai pemilih rasional, yang kebanyakan tinggal di perkotaan. Namun, “Mereka akan memilih calon, sesuai dengan hati nuraninya,” kata mantan calon gubernur dalam pemilihan kepala daerah Desember 2006 lalu.

Tak berlebihan analisis Humam ini. Sejumlah pemilih mengaku menggunakan hak pilih karena ada teman yang menjadi calon anggota legislatif. T. Patria misalnya. Ia hanya mencontreng kertas suara untuk pemilihan parlemen di tingkat kota. Sementara kertas suara untuk tingkat provinsi, pusat, dan anggota senator, dibiarkan terbungkus rapi seperti sedia kala saat diserahkan petugas.

“Untuk DPD dan DPR RI, serta DPRA, saya tidak pernah buka, sampai dimasukkan ke kotak suara,” ujar pengusaha muda ini. “Sayang, jagoan saya tidak mendapat kursi.”

Persoalan warga menjadi golput juga tak sepenuhnya karena alasan sikap politik. Humam Hamid menilai, amburadulnya proses pendataan pemilih juga menyumbang sebab. Jamak dikabarkan media, banyak warga yang tidak terdaftar sebagai pemilih. Belum lagi, proses pencontrengan yang rumit dan merepotkan: kertas suara ukuran jumbo dan calon legislatif yang ribuan.

“Ribet sih, kertas suaranya terlalu besar, kenapa tidak dibuat versi kecil aja,” kata Felly Nazilah. Walau demikian Felly mengaku pulang dari Sigli khusus untuk ikut Pemilu. Walau rumit dengan besarnya kertas suara, dia mengaku senang dapat menggunakan aspirasi politiknya.

Dokter berusia 27 tahun ini “terpaksa” memilih karena namanya masuk dalam DPT. “Kalau nggak masuk, nggak milih sih,” ujar Felly. Dia mengaku mencontreng dengan benar ke empat kertas suara yang disodor panitia. “Rugi dong, masa udah capek-capek antri di TPS ngak milih semua,” ujarnya polos.


***

KECAMATAN Kutaraja keluar sebagai “juara” karena menyumbang angka golput terbesar di Banda Aceh. Di kecamatan yang dipimpin Ria Jelmanita ini, sebanyak 49,5 persen dari 5.765 jiwa yang masuk DPT, mengabaikan hak suaranya. Angka ini turun dibandingkan jumlah kelompok putih pada pemilihan kepala daerah Desember 2006 lalu yang mencapai 64,1 persen dari 4.161 pemilih

Tapi, Ria menolak disebutkan wilayahnya penyumbang terbesar bagi kelompok putih. Menurutnya, banyak warga yang terdaftar di DPT tak lagi berdomisili di kecamatan itu. “Mereka umumnya pindah tempat tinggal karena mendapat rumah bantuan, namun masih terdaftar sebagai pemilih di kelurahan asal,” jelasnya.

Selain itu ada juga warga yang telah meninggal masuk dalam DPT, dan ada juga yang namanya ganda. Sedangkan masyarakat yang sudah wajib memilih ada yang tidak masuk dalam daftar memilih, “Kita telah memperbaiki daftar pemilih tetap, untuk pemilihan presiden mendatang.”

Menurut dia, partisipasi masyarakat di kecamatannya tinggi, dalam mengikuti ritual lima tahunan itu. “Buktinya pada simulasi masyarakat sangat antusias,” terang camat wanita di Kota Banda Aceh ini.

Sementara Manawarsyah ketua Pokja Sosialisasi komisi independen pemilu (KIP) Banda Aceh, manapik, banyaknya Golput dan suara tidak sah di Banda Aceh karena gagalnya sosialisasi yang pihaknya lakukan.

Menurut dia, KIP telah melakukan berbagi upaya, untuk membangun partisipasi masyarakat untuk menggunakan hak politiknya. “Sosialisasi telah dilakukan KIP, baik dengan pertemuan-pertemuan, selebaran maupun melalui media,” kata dia

Munawarsyah mengungkapkan, adanya suara tidak sah pada pemilu legislatif lalu bukan dikarenakan kurangnya pemahaman dengan cara memilih, tapi suara rusak tersebut di sengaja oleh pemilih, karena terjadi perbedaan angka untuk DPRK, DPRA, DPD dan DPR-RI

“Malah di kertas suara, pemilih meneluarkan kreasinya, ada yang menggambar, ‘misalnya menambah kumis caleg’, dan juga ada yang menulis ‘Wakil Rakyat hana jelas’, ‘ Hana Muesoe-soe kajuet keucalon dewan,” kata dia

Sedangkan untuk warga yang tidak datang ke TPS, karena banyak pemilih di Banda Aceh dari kalangan mahasiswa dan bertepatan dengan libur panjang, maka diperkirakan mereka memilih pulang ke kampungnya.

Apa pun alasan KIP, Mahfud dan Saini masih tetap pada keyakinannya untuk bergolput. Bahkan, sikap ini juga akan ditunjukkan pada pemilihan presiden Juli mendatang. Dengan alasan calon atau pasangan calon yang maju masih juga pemain lama

“Dari jaman dulu, siapapun yang duduk di dewan tidak ada yang bekerja ikhlas demi rakyat kalau tidak ada kepentingan, mereka hanya pengemis terhormat menjelang pemilu,” demikian ujar Mahfud.
***

0 komentar: